Home arrow Analyst Comment arrow Jere's Analysis arrow Analisa Jere: apa minggu depan masih naik?
Analisa Jere: apa minggu depan masih naik? PDF Print E-mail
Ternyata artikel saya sebelum ini agak "manjur" ya. Artikel kali ini mengenai hubungan krisis kebangkrutan finansial di US, powerful rebound selama 3 hari ini dan tentu saja, menjawab pertanyaan: "apa minggu depan masih naik lagi?" Baca terus, cukup menarik kok. INCO kembali mencetak kemenangan, selama 3 hari mencapai rebound 52%.Dan sayangnya ditutup dengan candle hammer yang buntutnya amit-amit panjangnya. Soal INCO sendiri, saya ingin bahas dalam artikel terpisah saja. Dari beberapa wacana yang saya baca dan hasil diskusi dengan analis dan pakar dari sekuritas lain, dari hasil diskusi, bahwa ada kemungkinan terjadi rally sampai ke 2000 kembali, karena IDX dibawah 2000 sangat tidak wajar alias terlalu murah.Dengan asumsi undervalue, ini adalah kesempatan bagi beberapa fund asing untuk masuk kembali mengisi "kekosongan". Dari beberapa sumber, juga mengatakan bahwa selama 3 hari ini, asing juga telah melakukan net buy. (Ini masih belum konfirmasi entah asing atau si "aseng".) Kita coba mundur sejenak ke hari dimana Lehman Brothers dan AIG tiarap karena merugi. Di berita, dapat Anda baca lebih detil tentang kedua raksasa finance tersebut, dimana Lehman menyatakan bangkrut dan AIG harus "dibeli" 79.9% sahamnya oleh BoA sebesar US$85 bio. Maju satu hari kemudian, ternyata beberapa bank sentral dari Canada, Eropa, Jepang, Swiss telah bersatu (jadi ingat Goggle Five) untuk melawan badai finansial ini, yang merupakan efek dari Subprime Mortgage. Bagaimana hasilnya? No one knows yet! Hari ini, pada saat saya mengetik artikel ini, saya baca di RSS saya bahwa SEC telah melarang short selling 799 emiten di sektor finansial Dow Jones. Ternyata selain bantuan finansial, sudah ada bantuan regulasi juga. Secara makro, dapat Anda lihat bahwa Amerika sedang dilanda krisis yang luar biasa. Krisis finansial yang mengarah langsung ke krisis ekonomi.Krisis karena kredit lebih tepatnya. Nah, sekarang pertanyaan saya? Apakah ada hubungan langsung dengan sektor finansial Indonesia? Atau lebih tepatnya begini pertanyaannya: apa hubungan antara crash kemarin dengan kejatuhan sektor finansial Amerika? Banyak yang bilang Lehman cuci bersih portfolio di IDX, ada juga yang bilang karena trader banyak yang kena margin call. Semua bisa jadi teori yang menarik. Dan saya yakin, belum tentu ada jawaban yang paling benar.Mungkin 5-10 tahun lagi baru ada buku yang terbit soal Subprime ini, itupun kalau lolos sensor. (ingat kan, kambing hitam pada tahun 1997 adalah George Soros? Apa Anda yakin dia satu-satunya biang keladi? Cuma karena spekulasi cari cuan semata lalu bisa menghancurkan Asia seorang diri?) Saya tidak mau bicara teori konspirasi atau teori bandar disini, pure economy saja. melihat dari market US yang semakin tidak menentu, beberapa trader lebih suka kembali ke komoditas, toh sebentar lagi juga musim dingin dimana energi juga dibutuhkan. Artinya, permintaan akan minyak dan batu bara juga meninggi (ingat artikel saya beberapa waktu lalu kan?). Andaikata hal ini benar, tentu saja ini adalah angin segar bagi sektor pertambangan. Selain itu, dengan semakin parahnya sektor finansial di Amrik, saya rasa, banyak fund asing juga mulai melirik emerging market lagi, apalagi Indonesia yang fundamental per emiten dan secara makro cukup kuat dan masih sangat menarik. Resiko investasi di Indonesia saat ini tentu saja masih ada halangan regulasi pemerintah yang belum jelas (apalagi soal DMO batubara), likuiditas bank, IDR yang melemah, harga minyak tinggi dan utang negara. Ini bisa jadi batu sandungan. Tapi setidaknya...kita tidak bermasalah atau terkait dengan subprime secara langsung. Dan lagi, saat ini PER IDX di 8.1x (kurang lebih) bagi investor asing sangat menarik, apalagi banyak emiten yang sangat undervalued karena terdiskon lebih dari 50%. Selain masalah krisis finansial, jangan lupa bahwa 4 November nanti,ada presidential election di US. Biasanya sih terjadi penurunan. Ini efek musiman. Dari hasil obrolan saya dengan para trader dan investor, saya mendengar bahwa mereka saat ini sedang dalam kebingungan luar biasa. Secara psikologis mereka sudah tanpa arah dan tanpa kompas. Mereka shock karena crash dan sekarang shock karena rebound kencang. Pada intinya, para pemodal ini melihat bahwa kenaikan sekarang sudah cukup "mengerikan". Banyak yang yakin bahwa minggu depan adalah ajang profit taking dan akan terjadi penurunan kembali. Apa benar? Belum lagi ditambah ada sentimen negatif yang mengatakan bahwa minggu depan bandar pasti ambil "THR" dan banyak trader yang menggunakan margin pasti bersihkan gudang karena menghindari bunga di masa liburan Lebaran. Walau begitu, adanya angin positif dari pemerintah tentang IPO BUMN dengan fundamental menarik dan rencana buyback, tentu saja seharusnya akhir tahun 2008 atau Q4 seharusnya akan menarik. Saya yakin, banyak di antara emiten kita yang masih membukukan pendapatan yang cukup tinggi. Pada saat ini, memang jelas bahwa bursa saham sangat choppy dan tidak jelas arahnya. Banyak analis sekuritas juga pusing. Namun melihat gambaran besar, seharusnya Anda tidak perlu pusing. Ini tentu saja sebenarnya jawabannya ada di dalam diri masing-masing. Bagaimana tingkat confidence Anda. Saya pribadi melihat bahwa potensi kenaikan masih ada mempertimbangkan faktor diatas. Dan bisa jadi kenaikan ini akan sangat volatile dan membutuhkan waktu lebih dari 3 bulan ke depan. Jadi, bagaimana keputusan Anda? Still surfing with the tides atau menjadi smart investor, buy at the lowest to gain more?
Last Updated ( Friday, 19 September 2008 )
 
< Prev   Next >