Home arrow Fundamental Analysis arrow FA Blue Chip arrow Indonesia Growth Q3-2008: rasionalisasi ekonomi
Indonesia Growth Q3-2008: rasionalisasi ekonomi PDF Print E-mail
Beberapa lama IDX Review tidak posting, karena nyaris menunggu kumpulan berita dari berbagai sumber dan tulisan yang setiap hari updatenya seputar berita negatif. Entah itu jumlah PHK dan berbagai macam stimulus dari pemerintah manca negara yang pastinya belum menunjukan hasil signifikan. Ya inilah the power of media. Dimana semua sedang berlomba-lomba menyajikan berita yang menyedihkan namun diulas dengan bumbu penambah semangat. Semua berkata fundamental ini dan itu masih bagus, saham undervalue, ini memang terjadi di setiap negara, dan sebagainya...Disini kami memberikan attachment tentang GDP growth dan jumlah sales mobil sebagai acuan kami, dan data dari laba bersih emiten di Q3 2008. Dari tabel penjualan mobil, dapat Anda lihat memang masih menunjukan peningkatan dari bulan sebelumnya. Tentu saja ini adalah suatu tanda positif. Begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mana angka 6.1% itu merupakan hal yang sangat positif. Dari laporan keuangan beberapa emiten, juga masih menunjukan hal bagus. Tentu saja dengan semua data ini, seharusnya investor tidak perlu terlalu kuatir. Apa benar? Kenyataan yang menyakitkan bisa saja terjadi di tahun mendatang.China sebagai negara dengan pertumbuhan double digit, di kisaran 11-12% harus menelan kenyataan bahwa prediksi pertumbuhan mereka akan berada di kisaran 8-9%. Sementara Amerika dan Eropa sudah harus mengalami pertumbuhan yang sangat kecil, sekitar 2%. Arti kata dari resesi sendiri adalah kontraksi ekonomi dan perlambatan biasanya selama 2 kuartal berturut-turut, ini sudah lebih dari satu tahun. Sementara itu, Indonesia baru saja mengalami penurunan. Ada delay impact, ada lagging time. Kenapa delay bisa terjadi, logikanya adalah karena Indonesia bukan negara sumber resesi, jadi hanya terkena imbas. Tapi ya karena itu, jadinya terkena lebih lambat dan takutnya akan rebound lebih lama. Semoga hal ini tidak terjadi. Prediksi dari INDEF, IMF dan termasuk dari Pak Boediono sendiri mengatakan bahwa Indonesia tahun depan akan mengalami pertumbuhan hanya di kisaran 4.84% - 5.5%. Menurun sangat jauh dari target pada era bullish 2007, yakni 7.2%. Apa kita perlu kuatir? Tentu saja, perlambatan dan pelemahan ekonomi secara angka tidak merepresentatifkan apa yang terjadi di masyarakat secara langsung. Bagaimanapun juga kendala nilai tukar USD/IDR kita yang sempat tembus 13,000 sudah cukup mengkuatirkan, apalagi PHK sudah mulai merajalela. Banyak anggapan bahwa seharusnya pemerintah lebih responsif dengan menurunkan BI rate, tapi apa itu menjadi solusi? Tidak juga, karena pada saat yang lebih tepat dibutuhkan (menurut kami) adalah government spending (G) sehingga ekonomi tetap bertumbuh dan mempertahankan daya beli (C). Nyaris semua negara sedang berlomba-lomba memberikan stimulus. Apalagi Amerika yang sekarang sudah melakukan pinjaman lebih dari 1.5 trillion USD untuk stimulus, dan China sudah memberi stimulus USD 500 billion, belum lagi Inggris dengan 256 billion USD. Pada saat ini, pemerintah sedang menggodok wacana untuk memberikan paket 12.5 triliun IDR dalam bentuk pengurangan pajak agar mencegah PHK. Pertanyaannya, dengan budget APBN yang demikian ketat dan devisa negara yang semakin tergerus karena USD semakin kuat tiap harinya, apakah pemerintah memiliki resistance yang kuat? Tentu saja tidak bisa dibandingkan apple to apple dengan keadaan di 1998, ini cerita 10 tahun lalu yang jelas kondisinya berbeda. Menurut kami, angka devisa di USD 50 billion itu merupakan angka yang memang sudah seharusnya. Lagipula pemerintah juga melakukan pinjaman sebagai langkah antisipasi. Menuju ke skala mikro, yang lebih kecil, hasil dari Investor Summit kemarin ini cukup baik. Secara fundamental, emiten kelas kakap yang melakukan public speaking menjelaskan bahwa memang pendapatan tergerus, tapi tetap saja masih akan melakukan capex dengan harapan memberi revenue yang lebih stabil. Agenda emiten masih tetap berlangsung seperti biasa. Penurunan pendapatan pada saat ini dan tahun depan kami nilai merupakan sesuatu yang wajar dan tidak dapat dihindari. Contohnya saja UNTR yang sudah memprediksi akan mengalami penurunan 30% karena rendahnya permintaan dari alat berat dan kontraktor batu bara. Jadi memang jangan kecil hati bila emiten melaporkan pendapatan mereka berkurang, toh itu adalah hal yang wajar. Bicara soal batu bara dan komoditas lainnya. Bicara juga soal rasionalisasi atau kewajaran. Agak sedikit sulit memberikan penilaian apakah seharusnya minyak memang USD 50 per barrel atau seharusnya lebih tinggi. Indonesia memang tergantung dengan komoditas ekspor, khususnya batu bara dan CPO. Sekarang ini banyak emiten pertambangan dan perkebunan yang terkena imbas negatif, di lapangan, secara nyata lebih kasihan lagi pengusaha dan khususnya petani CPO. Tapi ini bicara harga, bicara tentang ekuilibrium. Memang sangat volatile. Memang sudah resiko bagi negara atau produsen bahan mentah apabila terkena imbas dari volatilitas harga. Lain bicara tentang barang jadi atau processed material. Dari segi logika bukan tidak mungkin batu bara dan CPO akan kembali naik, karena memang demand itu pasti ada. Apalagi kebutuhan proyek listrik makin diperlukan, ini dengan catatan apabila pembangkit Nuklir tidak jadi dibangun. Walau begitu, toh banyak industri juga masih memerlukan batu bara. Untuk CPO dan rencana biodiesel, ini kebutuhan kembali lagi dengan tingkat sosialisasi dan pengadaannya, juga regulasi pemerintah dalam penetapannya. Kami masih melihat dua komoditas utama ini masih dapat bertumbuh dalam tahun-tahun mendatang. Hal terakhir, tentang Bakrie dan masalah hutangnya.Kami tidak mau terlalu membahas dalam mengenai hal itu, karena toh beritanya juga masih termasuk classified alias susah dicari kebenarannya karena banyak rumor dan simpang siur. Yang kami tahu pasti, dan kami yakin Anda juga, harganya sedang tertekan berita negatif, kecuali BUMI yang saat ini sedang dikompori dengan berita masuknya Rowe dan Soros? Yah, ini kami kembalikan kepada Anda dan berita yang Anda dapatkan sendiri. Buat IDX Review, secara perusahaan dan profitabilitas alias potensi keuntungan (dan kelangsungan) anak usaha Bakrie masih menjanjikan. Memang sangat disayangkan manajemen di dalam Bakrie tidak memberikan dukungan bagi para pemodalnya. Terlalu banyak skenario dan "what if" story dalam kasus Bakrie dan BUMI kali ini. Perlahan kami akan mencoba membedah menurut sudut pandang kami sendiri.
Last Updated ( Wednesday, 26 November 2008 )
 
< Prev   Next >